Jamming National Parkour Indonesia 2010 (Indonesian)

By Pujiati Sharani, Parkour Samarinda 24th, 25th & 26th September 2010 Location:Bandung, Indonesia Hari pertama: Pagi hari dimulai acara pertama yaitu registrasi para peserta jamnas yang dimulai dari pukul 8 pagi...
Share

By Pujiati Sharani, Parkour Samarinda

24th, 25th & 26th September 2010

Location:Bandung, Indonesia

Hari pertama:

Pagi hari dimulai acara pertama yaitu registrasi para peserta jamnas yang dimulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 11 siang sambil menunggu para peserta jamnas tiba di lokasi penginapan yang terletak di jalan RE Martadinata no. 119 Wisma Bina Marga, keadaan cuaca saat pagi hari menjelang berakhirnya sesi registrasi masih cerah dan dipenuhi rasa antusias tinggi dari para peserta jamnas ini, dan para peserta tampak bahagia ketika memasuki gerbang wisma, dipenuhi canda tawa pada saat menyambut para peserta dari berbagai kota di Indonesia hadir .

Setelah para peserta sudah lengkap dan semua sudah melapor kepada panitia, acara dilanjutkan ke lembang, tepatnya usai sholat jumat, pukul 11.30 semua peserta menuju Masjid dekat lokasi rintangan pertama untuk beristirahat  dan makan siang . Bagi para laki-laki yang muslim dipersilahkan untuk melaksanakan ibadah sholat jumat, saat itu beberapa peserta yang tidak melaksanakan ibadah share beberapa kegiatan dengan peserta lainnya.  Saat semua sudah menyantap makan siang yang diberikan panitia, acara dilanjutkan menuju sebuah bukit sambil menunggu kedatangan Thomas Couetdic dan Stephane Vigroux.  Tak lama kemudian sesaat mereka datang di bukalah kegiatan Jamnas 2010 oleh ketua panitia dan juga sambutan dari kedua narasumber dari Parkour Generation, para peserta pun memulai pemanasan yang dipimpin langsung oleh Stephane dan Thomas, dan sewaktu itu juga dibagi beberapa team untuk menyelesaikan tantangan pendakian gunung Jayagiri, ini kali pertama saya berlatih di tempat yang benar-benar mendekat dengan alam, keadaan cuaca saat itu berubah menjadi gerimis hingga pada saat team pertama menuju gerbang masuk Jayagiri hujan mulai mengguyur deras, tapi tidak menyurutkan semangat peserta yang mengikuti kegiatan hari pertama ini.

Para peserta tidak hanya melakukan pendakian, saat itu diberi beberapa tantangan yang harus diselesaikan, seperti balance di pohon yang sudah tumbang, disini peserta diuji bagaimana cara menjaga kerjasama team, dan masih banyak lagi, saat itu keadaan benar-benar dingin karena hujan, dan lokasi penjelajahan licin tak sedikit dari peserta yang terjatuh karena terpeleset oleh lumpur dan jalan yang penuh bebatuan serta akar pohon, dihari pertama kita menyelesaikan rintangan hingga hari benar-benar gelap, dan pakaian para peserta benar-benar penuh lumpur, basah karena air hujan dan keringat, namun stamina para peserta saya akui benar-benar kuat karena walau begitu masih terlihat canda tawa pada saat perjalanan pulang menuju penginapan.  Setelah itu acara dilanjutkan dipenginapan yaitu acara malam keakraban.

Lalu saat malam keakraban, semua peserta mengenalkan diri masing-masing dan darimana daerah mereka berasal, bagaimana perkembangan parkour mereka dan cara berlatih, yang paling berkesan adalah beberapa peserta dari berbagai daerah mengisi malam keakraban dengan penuh canda tawa dan sedikit melupakan rasa lelah setelah menempuh jarak yang cukup jauh. Dan usai malam keakraban para peserta meninggalkan ruangan dan menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.

Hari Kedua:
Sabtu, 25 September acara dimulai pagi hari. Para peserta dibangunkan oleh panitia untuk menyantap makan pagi bersama. Suasana pagi masih cerah di daerah wisma tempat peserta jamming nasional menginap. Setelah sarapan, peserta menyiapkan diri untuk ke ITB mengikuti kegiatan hari kedua jamming nasional. Hari itu para peserta berpenampilan kompak mengenakan baju simbolis acara jamming nasional. Dengan penuh semangat pagi itu semua siap untuk mengikuti workshop yang akan dibimbing oleh Stephane Vigroux dan juga Thomas Couetdic. Perjalanan masih sama mengenakan angkutan militer. Setibanya di ITB, peserta dibagi dalam beberapa grup yang masih sama seperti dihari yang pertama, dan sebelum memulai workshop semua melakukan pemanasan dan lari selama 20 menit. Lalu dimulailah tantangan-tantangan yang diberikan. Setiap grup memiliki kesempatan untuk mempelajari parkour sesuai spot yang telah ditentukan hingga pukul 12 siang. Saya pun mendapatkan banyak pengalaman selama mempelajari hal tersebut, namun sayang karena cuaca kembali tak bersahabat, setiap grup rata-rata hanya mendapatkan 3 spot saja. Harusnya semua peserta menyelesaikan 6 spot, saat menunggu hujan reda. Para peserta jamming nasional mengisinya dengan bercanda bersama. Tak lama kemudian Thomas dan juga Stephane mengajak lari keliling ITB pada saat masih hujan, karena takut sepatu yang dikenakan basah dan tidak memiliki sepatu cadangan lagi, saya dan beberapa peserta lainnya memutuskan untuk barefoot saja. Tantangan lari pada saat hujan semakin terasa, karena tidak mengenakan alas. Saya hanya mampu menyelesaikan separuh saja karena saat itu kedua betis saya kram. Tapi setidaknya saya mendapatkan pengalaman yang menantang.

Selepas itu sambil menunggu jemputan datang semua peserta saling berfoto, dan membuat suasana semakin akrab, ya karena momen inilah yang ditunggu untuk berkumpul bersama para praktisi parkour yang tersebar dari penjuru Indonesia, dan saya sangat senang karena bisa berbagi dengan praktisi perempuan lainnya yang sebelumnya saya hanya berlatih sendiri saja di kota asal saya.Malam kedua diisi oleh sesi tanya jawab dan banyak hal yang didapat dari sesi ini terutama tentang filosofi parkour, dan beberapa masalah yang biasanya timbul di dalam komunitas parkour. Dan setelah itu peserta memberikan beberapa persembahan dari daerah masing-masing untuk Stephane dan Thomas. Pada saat terakhir Thomas berpesan kepada saya, untuk tetap berlatih keras dan tidak takut untuk mencoba sesuatu, jika ingin mencoba jangan ragu, lakukan dengan percaya diri tetapi jangan sampai melukai diri kita sendiri. Keraguan merupakan sebuah bad habit menurut Thomas. Saya juga bertanya kepada Thomas bagaimana menurut dia perkembangan praktisi perempuan yang mengikuti jamming nasional ini, dan dia berkata bahwa praktisi perempuan yang mengikuti kegiatan ini  pemberani dan dia berpesan untuk tetap latihan keras. Lalu berpamitan dan mengucapkan selamat malam untuk para peserta.

Hari ketiga:
Memasuki hari terakhir jamming nasional, saya sebagai salah satu peserta merasa sangat beruntung karena bisa mengikuti kegiatan ini, karena banyak hal yang bermanfaat dan berguna untuk diri saya. Dan bisa menjadi bekal bagi saya untuk berbagi dengan praktisi di kota asal saya. Di saat hari ketiga dimulai, para peserta nampak cukup lelah ketika sarapan, namun sewaktu menuju ITENAS yang menjadi tujuan akhir, semangat para peserta timbul kembali, namun sayang beberapa peserta jamming ada yang kembali lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan karena urusan mereka masing-masing. Sesampainya di tempat tujuan, cuaca pada hari itu cukup terik. Panitia memulai dengan sambutan sekaligus menutup secara simbolik acara jamming nasional, keunikan dari jamming nasional 2010 adalah ketika Stephane dan Thomas memberi sambutan dan bertanya bagaimana keadaan para peserta, serentak menjawab “MBOISS” Kata “mbois” sendiri dipopulerkan oleh komunitas parkour dari Jawa Timur dan Jogjakarta yang sebenarnya berasal dari Bahasa Jawa yang berarti keren, bagus, baik. Dan kata-kata itu muncul pertama kali di Facebook dari teman-teman komunitas parkour yang berdomisili di Jawa Timur.



Setelah memberi sambutan kata-kata perpisahan, peserta memulai pemanasan sebelum berlari. Dan menurut saya acara ini benar-benar sukses, dari awalnya hanya sebuah mimpi ternyata berubah menjadi kenyataan, dan terwujudlah event besar seperti ini. Dan bisa menunjukan bahwa komunitas Parkour Indonesia memang sebuah keluarga besar. Acara dilanjutkan dengan jamming bebas, para peserta bebas untuk bergerak dengan sesuka hati saling berbagi ilmu dan mempelajari teknik bersama. Dan ada kesempatan yang sangat emas bagi praktisi perempuan karena Stephane dan juga Thomas secara langsung membantu kita untuk berani bergerak. Hasilnya para praktisi perempuan sangat senang karena mendapatkan pelajaran langsung dari mereka berdua dan sangat bermanfaat, yang saya suka dari kata-kata mereka adalah bergeraklah mengikuti ritme tubuh bayangkan jika kamu sedang menari. Disitulah letak keindahan parkour untuk perempuan. Semoga pengalaman menarik ini bisa menjadi sebuah memori untuk kita semua dan memacu semangat kita untuk berlatih dengan giat lagi seperti kata Thomas Couetdic “We start together, We finish together no man left behind. We do the same thing.” Keep going for all of parkour practitioners

Parkour Indonesia adalah wadah dan forum untuk seluruh komunitas parkour yang ada di Indonesia. Informasi seputar berita, artikel, filosofi, pemahaman, dan jadwal latihan komunitas bisa didapatkan lewat http://www.parkourindonesia.web.id.
Parkour Generations holds indoor and outdoor classes for men and women in London. For monthly girls’ jams in London, please email girls (at) parkourgenerations (dot) com . For more information on their services, check out their website  athttp://www.parkourgenerations.com
All photos by Daniel Giovanni, thank you Daniel for organizing the event review

Related posts:

Share